Apakah PR Harus Cakep?

Pak Rahmat Effendi, sumber: antaranews
Aku merasa sangat gemas untuk tidak mengomentari pendapatnya Pak Rahmat Effendi, Walikota Bekasi tentang rekrutmen Public Relations (PR) bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) kota Bekasi. Ceritanya, pak walikota berniat melatih 50 ASN untuk menjadi PR yang akan ditempatkan di berbagai Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) kota Bekasi guna meningkatkan pelayanan bagi masyarakat. Niat yang bagus dari pak walikota, tapi coba kita lihat syarat rekrutmen ini. 

Seperti yang dikutip dari Antara, seleksi yang dilakukan oleh Badan Kepegawaian Daerah (BKD) kota Bekasi terdiri atas 30 pegawai perempuan dan 20 pegawai laki - laki.

"Bisa lulusan D3 dan S1 diperbolehkan, yang terpenting berparas tampan atau cantik," kata Rahmat Effendi.


Ide pak walikota tentang PR yang harus rupawan adalah ide usang. Ini pola pikir yang sudah lama sekali ditinggalkan. Dulu saat aku kuliah di FIKom Untar, ada mata kuliah dasar-dasar public relations di semester ketiga, dosennya Pak Gufroni Sakaril, Kepala Humas Indosiar yang juga merupakan ketua umum Persatuan Penyandang Cacat Indonesia. 

Di kelas, aku pernah bertanya, bagaimana tantangan yang beliau alami untuk menjadi humas di tengah keterbatasan fisik yang beliau miliki. Sekedar informasi, Pak Gufroni lahir dengan keterbatasan fisik, yang hebatnya tidak membuat beliau minder, justru malah memotivasi dirinya hingga menjadi kepala Humas di PT Indosiar Visual Mandiri.

Pak Gufron kurang lebih menjawab, yang terpenting bukan apa yang ada di luar (fisik), tapi apa yang ada di dalam (ide dan gagasan). 

PR sejatinya merupakan seni mengkomunikasikan pesan dari organisasi kepada khalayaknya. Elizabeth Goenawan Ananto dalam rubrik EGA briefings Majalah PR Indonesia menjelaskan bahwa istilah PR dapat dijabarkan sebagai suatu komunikasi yang strategis, terarah kepada publik tertentu yang dikomunikasikan dengan berbagai saluran komunikasi agar terjadi perubahan sikap.  

Kata kunci di PR adalah perubahan sikap dari masyarakat, yang itu merupakan pekerjaan yang tidak sebentar, dan tidak mungkin bila hanya mengandalkan paras rupawan semata. Perkerjaan ini menuntut kemampuan komunikasi yang strategis. 

Lalu, apa PR tidak perlu rupawan?

Konsep rupawan sendiri adalah konsep yang absurd dan sangat subjektif, tergantung siapa yang memberi standar tentang kerupawanan itu. Bagiku, rapih dan bersih sudah cukup kog.

Ada hal-hal yang lebih esensial tentang PR utamanya Government PR, ketimbang urusan kerupawanan. 

Silih Agung Wasesa dalam buku Strategi Public Relations, memaparkan beberapa pekerjaan rumah yang harus dibenahi untuk membentuk Government PR yang kuat, antara lain: Birokrasi besar yang tidak responsif, Kultur Asal Bapak Suka (ABS) dan kemampuan membaca kepentingan media. Tiga hal ini yang mesti dibenahi kalau memang pemkot Bekasi niat untuk investasi ke komunikasi. 

Nah, menurut kamu, penting enggak sih praktisi PR itu rupawan? Share di kolom komentar yaa!

Komentar

Pos populer dari blog ini

Sebuah Pembelaan Untuk Dian Sastro

Berkenalan Dengan Nyonya Auw Tjoei Lan, Sang Kartini Tionghoa

#Digital4Humanity: Mengkomunikasikan Isu Kemanusiaan Melalui Media Sosial