Mengenal Klenteng Nyai Ronggeng di Ancol

Pintu Depan Vihara Bahtera Bhakti atau Klenteng Nyai Ronggeng
Minggu lalu, aku pergi ke Vihara Bahtera Bhakti di Ancol. Vihara ini dikenal juga dengan sebutan Klenteng Nyai Ronggeng. Aku ke klenteng ini karena penasaran dengan sejarahnya setelah membaca buku Tionghoa dalam Keindonesiaan: Peran dan Kontribusi Bagi Pembangunan Indonesia yang baru saja diluncurkan.

Dalam buku itu, Sumanto Al Qurtuby menyebutkan bahwa  klenteng ini dihubung-hubungkan dengan Sampo Soei Soe, seorang Tionghoa Muslim yang menjadi juru masak Cheng Ho. Kisahnya pada waktu Cheng Ho ekspedisi ke Sunda Kelapa, sang juru masak jatuh cinta dengan penari ronggeng setempat yang bernama Siti Wati. Karena saling jatuh cinta, keduanya akhirnya menikah. Ketika mereka meninggal, mereka dikuburkan di kompleks klenteng ini bersama mertuanya yang bernama Said Areli. Sumanto mendasarkan pendapatnya tersebut pada cerita lisan yang dirilis ulang oleh Lee Khoon Choy dalam Indonesia Between Myth and Reality.

Pendapat yang hampir senada juga disampaikan oleh Agni Malagina dalam tulisannya di National Geographic Indonesia. Agni menyebutkan bahwa saat armada Cheng Ho tiba di Sunda Kelapa, sang juru masak yang bernama Sampo Soei Soe bertemu seorang wanita bernama Siti Wati, putri seorang pendakwah Islam, yang saat ini namanya dikenal sebagai Embah Areli Dato Kembang dan istrinya yang bernama Ibu Enneng. Rupanya, Sampo Soei Soe diterima dengan terbuka oleh keluarga Siti Wati. Mereka pun menikah dan bertukar adat istiadat kebiasaan.

Tidak hanya Sampo Soei Soe, ada banyak anak buah Cheng Ho yang memilih menetap di Jawa, seperti Bi Nang Un dan Na Li Ni di Lasem serta Tum dan Peng di Semarang. Ada beberapa alasan sehingga mereka lebih memilih menetap di kampung baru dari pada pulang ke daerah asalnya, antara lain pengembangan bisnis di daerah baru yang lebih menjanjikan, faktor kenyamanan politik dan syiar Islam, maupun jatuh cinta dengan penduduk setempat seperti Sampo Soei Soe. 

Patung Iboe Siti Wati dan Sampo Soei Soe
Sosok Sitiwati dan Sampo Soei Soe dalam bentuk patung yang berdiri bersisian dapat kita temukan di salah satu altar dalam klenteng ini. Kedua patung tersebut berwarna hitam, dibalut dengan pakaian berwarna merah. Di peribaan kedua patung tersebut diberi papan nama, masing-masing Iboe Siti Wati dan Sampo Soei Soe. Patung keduanya kini rutin disembahyangi oleh orang Tionghoa.  

Ada dugaan klenteng ini dulunya adalah masjid yang kemudian dialihfungsikan menjadi klenteng. Dugaan itu karena adanya makam yang dikeramatkan di dalam klenteng. Menurut Handinoto  dalam buku yang sama, salah satu ciri dari arsitektur masjid Jawa kuno adalah adanya makam yang dikeramatkan, seperti di masjid Sendang Duwur di Lamongan dan masjid Jami di Lasem. Sependek pengetahuanku, Klenteng-klenteng aliran Konfusius biasanya tidak memiliki makam di klentengnya. 

Di dekat kolam yang ada di tengah-tengah komplek klenteng ini, dapat dijumpai dua buah makam yang terawat rapi. Kedua makam tersebut tidak bernama, hanya ada nisan berwarna putih polos dan kendi air di makam tersebut.

Makam tak bernama di tengah-tengah area klenteng
Kisah Sampo Soei Soe dan Sitiwati sungguh epik. Mereka adalah simbol kawin campur dan akulturasi yang telah terjadi sejak dahulu kala. Dari mereka, lahir budaya peranakan Tionghoa-Betawi yang mewarnai kehidupan kita hari ini.

Bila kamu mau berkunjung ke klenteng ini, klenteng ini terletak di tengah-tengah perumahan mewah di Ancol, tepatnya di jalan Sanur V. Bila menggunakan Bus TransJakarta, dapat turun di Halte Ancol, lalu nyambung dengan ojek. Jarak klenteng ini dengan halte TransJakarta sekitar tiga kilometer.  Sungguh suatu pengalaman luar biasa, bisa sembahyang di sini. 

Kamu pernah ke Klenteng Nyai Ronggeng atau pernah dengar kisahnya? Share di kolom komentar ya! 

Sumber: 
Tionghoa dalam Keindonesiaan: Peran dan Kontribusi Bagi Pembangunan Bangsa

Komentar

Pos populer dari blog ini

Sebuah Pembelaan Untuk Dian Sastro

Berkenalan Dengan Nyonya Auw Tjoei Lan, Sang Kartini Tionghoa

#Digital4Humanity: Mengkomunikasikan Isu Kemanusiaan Melalui Media Sosial